STPN Berubah Menjadi Politeknik Agraria, Fokus pada Pendidikan Vokasi Pertanahan
Nusron mengatakan perubahan bentuk kelembagaan itu merupakan bagian dari proses transformasi yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Transformasi mencakup penataan organisasi, pengembangan kurikulum vokasi, pembukaan program studi baru, hingga penyelenggaraan pendidikan.
“Proses transformasi yang selama beberapa tahun terakhir kita perjuangkan, saat ini sudah mencapai tahap akhir,” kata Nusron dalam acara tersebut.
Ia menyebut Politeknik Agraria STPN sebagai satu-satunya perguruan tinggi vokasi di Indonesia yang secara khusus mengembangkan pendidikan di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Selama puluhan tahun, kata Nusron, STPN telah melahirkan ribuan tenaga profesional. Sebagian di antaranya mengabdi di Kementerian ATR/BPN, sementara lainnya bekerja di berbagai bidang.
Perubahan kelembagaan STPN juga diikuti dengan pembukaan tiga program studi baru. Program tersebut mulai diselenggarakan pada tahun akademik 2025/2026 dan telah memperoleh akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Ketiga program itu adalah Sarjana Terapan Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan, Sarjana Terapan Survei Pemetaan dan Informasi Pertanahan, serta Sarjana Terapan Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah.
Menurut Nusron, pembukaan program studi tersebut merupakan upaya untuk membuat pendidikan di Politeknik Agraria STPN lebih dekat dengan kebutuhan di lapangan.
“Transformasi ini harus kita lihat sebagai proses untuk membuat pendidikan di Politeknik Agraria STPN semakin relevan dengan kebutuhan lapangan,” ujarnya.
Nusron berharap pengembangan kurikulum dan sistem pembelajaran terus dilakukan secara adaptif. Politeknik Agraria STPN juga diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi menjadi ruang bagi lahirnya gagasan dan inovasi teknologi untuk menjawab persoalan agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Kementerian ATR/BPN, kata dia, akan mendukung penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana, serta pembiayaan yang diperlukan.
Di tengah perubahan tersebut, statuta Politeknik Agraria STPN masih dalam tahap pembahasan dan penetapan di Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi.
Kementerian ATR/BPN menyatakan akan terus mengawal proses tersebut hingga selesai.
Plt Direktur Politeknik Agraria STPN Sri Yanti Achmad mengatakan perubahan bentuk kelembagaan tersebut merupakan hasil perjuangan panjang seluruh sivitas akademika.
Menurut Sri Yanti, transformasi tidak berhenti pada perubahan bentuk kelembagaan. Pembukaan tiga program studi baru menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi dan pengembangan keilmuan di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
“Peresmian Politeknik Agraria STPN yang dirangkaikan dengan wisuda perdana ini menjadi momentum penting yang menandai babak baru dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi,” kata Sri Yanti.
Ia berharap Politeknik Agraria STPN dapat semakin kuat menjalankan perannya dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan profesional.
Perubahan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2022.
Dalam acara itu, Politeknik Agraria STPN memberikan penghargaan kepada Kepala Pusat Penilaian Kompetensi BPSDM Heri Mulianto sebagai pencipta Hymne Politeknik Agraria STPN.
Sejumlah pejabat pimpinan tinggi madya dan pratama Kementerian ATR/BPN, Sekretaris Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi se-Indonesia hadir dalam peresmian dan wisuda tersebut. (red/foto:ist)
