Karhutla Kalteng Turun Tajam, Pemerintah Perkuat Pengawasan di Tengah El Nino
Palangka Raya, Xposekalimantan.com – Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Hingga 22 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar tercatat 7.634 hektare, jauh lebih rendah dibandingkan periode El Nino pada tahun-tahun sebelumnya.
Hal ini dikatakan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran maupun Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan, dan perwakilan Pangdam XXII/Tambun Bungai saat menyampaikan keterangan dalam jumpa pers penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026 di Palangka Raya, Senin (24/8/2026).
Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan mengatakan, angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa upaya pencegahan dan penanganan karhutla yang dilakukan secara bersama mulai menunjukkan hasil.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tercatat 22.203 titik hotspot di Kalimantan Tengah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.739 titik berkembang menjadi firespot atau titik yang benar-benar mengalami kebakaran.
Khusus pada Senin (24/8/2026), terdapat 858 titik hotspot dan 53 titik firespot dengan total luas lahan terbakar mencapai 190,96 hektare.
Kondisi tersebut membuat aparat dan pemerintah daerah terus memperketat pemantauan, terutama di wilayah yang dianggap rawan terjadi kebakaran.
Kapolda menyebut pengendalian karhutla menjadi tantangan tersendiri karena Kalimantan Tengah menghadapi musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Namun, jika dibandingkan dengan sejumlah periode El Nino sebelumnya, luas lahan terbakar tahun ini masih jauh lebih rendah.
Pada 1997, ketika El Nino berada pada kategori sangat kuat, luas lahan terbakar di Kalteng hampir mencapai 2 juta hektare. Angka itu kemudian tercatat 1.722.030 hektare pada 2006, 583.833 hektare pada 2015, 317.749 hektare pada 2019, dan 165.896 hektare pada 2023.
“Ini bukti upaya pemerintah pusat sampai daerah berhasil menekan karhutla,” kata Iwan.
Untuk menghadapi ancaman kebakaran selama musim kemarau, sebanyak 10.700 personel gabungan disiapkan dalam Satgas Karhutla. Mereka berasal dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, serta masyarakat peduli api (MPA).
Selain itu, Polda Kalteng menggelar Operasi Aman Nusa dengan menambah 650 personel di lima wilayah yang menjadi prioritas, yakni Palangka Raya, Pulang Pisau, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, dan Kapuas.
Penanganan karhutla tidak hanya dilakukan setelah api muncul. Pencegahan menjadi strategi utama agar kebakaran tidak meluas.
Petugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat, menyebarkan Maklumat Kapolda tentang larangan membakar lahan, serta meningkatkan patroli di kawasan yang rawan kebakaran.
Pemantauan juga dilakukan dari udara menggunakan helikopter dan drone.
Menurut Iwan, penggunaan drone membantu petugas mendapatkan gambaran mengenai kondisi kebakaran sebelum personel diterjunkan ke lokasi.
“Drone sangat efektif untuk melihat luas kebakaran sebelum personel turun,” ujarnya.
Di tengah upaya pencegahan, aparat juga memastikan penegakan hukum tetap berjalan terhadap pihak yang diduga menyebabkan karhutla.
Hingga kini, sebanyak 52 kasus masih dalam proses penyelidikan. Dari jumlah tersebut, delapan kasus telah naik ke tahap laporan polisi (LP), sementara 13 orang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Dua di antaranya merupakan tersangka dalam kasus karhutla yang sebelumnya ramai di media sosial.
Iwan menegaskan, penanganan hukum akan dilakukan terhadap setiap kasus karhutla yang ditemukan.
“Kami tegaskan lagi, setiap karhutla yang terjadi akan kami proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.
Di tengah kemarau dan ancaman El Nino, pemerintah dan aparat berharap penurunan luas karhutla tersebut dapat terus dipertahankan. Masyarakat juga diimbau ikut menjaga lahan dan lingkungan agar api tidak kembali meluas. (red/foto:ist)
