Gandeng Densus 88, Disdik Kalteng Gelar Sosialisasi Pencegahan Tindak Kekerasan, Intoleransi dan Radikalisme

Gandeng Densus 88, Disdik Kalteng Gelar Sosialisasi Pencegahan Tindak Kekerasan, Intoleransi dan Radikalisme
Katim Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88, Ganjar Satriyono

‎Palangka Raya, xposekalimantan.com – Dalam upaya mencegah tindak kekerasan, intoleransi, radikalisme, dan terorisme di lingkungan pendidikan, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah menggelar Sosialisasi Pencegahan Tindak Kekerasan, Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (29/1/2026) lalu. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Densus 88 Anti Teror Polri dan diikuti oleh kepala sekolah, guru, serta peserta didik SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKH) se-Kalimantan Tengah.

‎Plt. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme para peserta, khususnya para siswa yang mengikuti kegiatan meskipun dilaksanakan di luar jam sekolah. Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena kegiatan harus dilaksanakan pada sore hari.

‎“Alhamdulillah adik-adik semua bisa hadir. Saya mohon maaf karena kegiatan ini dilaksanakan di luar jam sekolah, sehingga pulang menjadi lebih sore. Mudah-mudahan kegiatan ini berjalan dengan baik dan membawa manfaat bagi kita semua,” ujarnya.

‎Dalam kesempatan tersebut, Reza Prabowo menekankan bahwa era digital telah menghapus sekat antarwilayah, termasuk dalam dunia pendidikan. Menurutnya, dengan hadirnya papan tulis digital, jaringan internet, dan dukungan energi alternatif seperti panel surya, kini tidak ada lagi perbedaan antara sekolah di perkotaan dan sekolah di daerah pedalaman.

‎“Tidak ada lagi sekolah unggulan dan tidak unggulan, karena semua memiliki fasilitas yang sama. Sekolah di kota dan di desa sekarang sudah terhubung, kualitas pendidikannya pun setara. Ini harus kita syukuri bersama,” tegasnya.

‎Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi juga harus disikapi dengan bijak. Seluruh peserta didik dan tenaga pendidik telah terdata dalam sistem pendidikan, sehingga penggunaan teknologi harus dijaga agar tidak menjerumuskan ke hal-hal negatif yang dapat merugikan masa depan.

‎“Saya berpesan kepada adik-adik semua, jaga hati, cintai orang tua, sayangi guru dan teman-teman di sekolah. Pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari kebodohan, kemiskinan, dan keterisolasian. Mari kita arahkan mindset ke hal-hal positif,” tuturnya.

‎Reza Prabowo juga mengajak seluruh keluarga besar pendidikan di Kalimantan Tengah untuk bersama-sama membangun daerah dengan semangat kebersamaan serta kewaspadaan terhadap pengaruh negatif, khususnya yang berkaitan dengan paham kekerasan dan ekstremisme.

‎Sementara itu, Katim Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88, Ganjar Satriyono, dalam paparannya menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial membawa dampak positif sekaligus negatif, terutama bagi anak-anak usia sekolah.

‎Ia mengungkapkan bahwa saat ini terdapat fenomena perekrutan anak-anak ke dalam kelompok kekerasan melalui media sosial dan permainan daring (game online). Menurutnya, game tidak sepenuhnya salah, namun sering dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk menanamkan paham kekerasan dan tindakan melanggar hukum.

‎“Anak-anak direkrut melalui permainan online, kemudian diarahkan masuk ke grup-grup percakapan yang menormalisasi kekerasan. Ini sangat berbahaya karena anak-anak masih berada pada fase pencarian jati diri dan emosinya belum stabil,” jelasnya.

‎Ganjar juga menekankan pentingnya peran guru dalam mendampingi perkembangan psikologis peserta didik. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai orang tua, sahabat, dan tempat curhat bagi siswa, agar perubahan perilaku dapat terdeteksi sejak dini.

‎Menurutnya, banyak kasus kekerasan berawal dari anak yang menarik diri, mengalami perundungan, atau terlalu larut dalam dunia digital tanpa pengawasan. Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan aparat sangat diperlukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

‎Melalui sosialisasi ini, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah bersama Densus 88 berharap seluruh peserta didik, tenaga pendidik, dan pemangku kepentingan pendidikan dapat lebih waspada, saling peduli, serta bersama-sama menjaga lingkungan sekolah agar tetap aman, nyaman, dan bebas dari pengaruh kekerasan, intoleransi, radikalisme, dan terorisme. (sumber : Disdik Kalteng)